Pendahuluan
Perspektif / Sudut Pandang adalah sebuah kata yang sangat jarang dibicarakan bahkan dibahas oleh ilmu pengetahuan, tetapi sering digunakan dalam penalaranan ilmu pengetahuan maupun pembicaraan sehari hari. Hal ini menyebabkan banyak distorsi / perubahan dari hal yang seharusnya menjadi berbeda dan pada akhirnya jauh dari arti dan makna sesuangguhnya.
Hal ini menjadi dilematis tersendiri bagi para peneliti, guru dan pembelajar suatu data atau sebuah hal yang menjadi acuan dasar berpikir. Memang tidak mudah untuk membahas hal ini. Karena ini bersifat perspektif dan mempunyai "kacamata" idealisme dan sudut pandang atas setiap pengajaran, kalimat, bahkan kata.
Bahkan jika kita berbicara dalam konsep dan lingkup agama dan pengajarannya. Hal ini menjadi tidak mudah, karena setiap orang secara mau tidak mau harus memiliki prefektif dari apa yang mereka alami dan sudut pandang serta pemikiran yang harus terjadi. Tetapi hal ini menjadi buah simalakama.
Dengan mereka mengunakan "kacamata" idealisme yang berdasar pengalaman dan sudut pandang dari berbagai buku. Membuat mereka mencampur adukan dari segala hal dan memprosesnya sebagai dunia ini adalah dunia normal . Tetapi tanpa di sadari mereka masuk dalam jebaknan liberalisme dan predestination. Dimana logika manusia itu secara praktis berkembang dan melogiskan secara logis apa yang tidak logis.
Maka dari pada itu dasar atas pengenalan dan pembelajaran akan dasar pengajaran menjadi sangat penting untuk kita pahami dan kita lihat dari berbagai sudut yang telah kita punya. Maka dengan demikian, kita akan melihat hal yang mendasar serta memiliki kekuatan dan dominasi yang kuat atas hidup manusia.
Alkitab adalah satu kesatuan
Ketika kita melihat Yohanes 1:1-2 dengan berbagai pandangan pun, kita akan menemukan pandangan Alkitab adalah pandangan Allah yang absolute serta memiliki otoritas yang kuat.
Tetapi belakangan ini mereka yang tidak mengerti mengunakan pendekatan ilmu psikologi dan berbagai ilmu lainnya yang "membuat" seolah olah mereka memahami dan melibatkan emosi mereka untuk merasakan " Hadirat Allah ".
Maka perhatikan dalam imamat 10: 1 dengan tegas apa yang disampaikan oleh Firman Allah terhadap sudut pandang Allah. Dimana sudut pandang yang digunakan oleh Alkitab adalah satu kesatuan Dan tidak boleh ada api asing didalamnya. Tetapi logika manusia yang tidak mengerti dan memahami akan melakukan hal tersebut serta memanfaatkannya.
Dari semuanya itu, yang mereka tidak tahu bahwa seperti Yudas dan Simon memilih hal yang salah, tetapi hal ini "digunakan" Allah untuk menyatakan otoritas dan kekuasaanya untuk menyatakan logika Allah yang absolute.
Dari ke egoisan manusia, Allah ubah semuanya itu untuk mengenapi segala hal yang telah firmankan kepada pelayan - pelayan yang telah mendapatkan kepercayaannya. Sehingga seharusnya untuk melihat segala logika Allah yang kita gunakan adalah prefektif Alkitab itu sendiri.
Memiliki prepektif Alkitab
Untuk memiliki prepektif Alkitab, hal utama yang harus di perlihatkan adalah mengenal siapa pembuat nas Alkitab itu. Karena sering kali bahkan pasti para teolog maupun pelayan Tuhan mengkaitkan hal ini dengan sejarah yang terjadi pada saat itu dan logika berpikir para penulis yang terprofokasi dengan lingkungan saat itu terjadi.
Jika kita melihat dalam 1 raja 4:29 dan Daniel 1:17, dengan jelas bahwa prefektif Alkitab adalah semua dari sudut pandang Allah yang memberikan pengetahuan serta pengertian atas segalanya. Maka Paulus kepada Timotius dalam 2 Timotius 3:16, dengan tegas kata awalnya berkata " segala tulisan yang di ilhamkan Allah ", Hal ini merujuk kepada sudut padang Tuhan Yesus Kristus itu sendiri yang adalah Firman dan pemilik segala Firman serta logika Allah.
Lalu bagaimana dengan banyaknya hamba Tuhan yang memiliki pandangan dari para pendahulunya dengan berbagai teori dan berbagai pemahaman atas Firman itu sendiri. Apakah hal itu salah atau tidak ? kita tidak bisa katakan dalam bahwa ini benar atau tidak.
Tetapi dalam 2 Timotius 3:16 dengan tegas bahwa Firman Tuhan yang sehat akan mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran. Hal ini terlihat bagaimana dalam Lukas 4:32 , bahwa Kuasa dan otoritas Allah nyata dalam setiap pengajar anak anak Tuhan untuk mengarahkan domba untuk mengikuti kehendak Allah dalam otoritas Roh kudus.
Sebagai seorang anak yang mengenal Tuhan Yesus Kristus, seharusnya kita dapat melihat dari kedua ayat di atas bagaimana pandangan akan kebenaran harus diuji seturut pandangan Firman Tuhan dan kehendak Allah dalam pimpinan Roh Kudus.
Sehingga kita dapat melihat, merasakan, mengetahui dengan benar apa yang menjadi perkataan Tuhan Yesus Kristus bagi hidup kita dan cara pandang kita terhadap masalah Dan logika manusia yang ditampilkan di hadapan kita.
Prepektif Allah berbeda dengan Dunia
Jika kita membaca seluruh Alkitab, kita akan mengetahui dan melihat bagaimana perbedaan yang sangat jauh dalam seorang yang melihat dengan "kacamata" Tuhan Yesus Kristus dan dunia.
Salah satu contoh yang kita bisa lihat dalam Yohanes 6:7-9, bagaimana orang yang dekat dengan Tuhan Yesus Kristus tidak atau belum memiliki prepektif Firman Tuhan. Dimana mereka bertanya bagaimana mencukupi kebutuhan akan segala sesuatunya, tetapi berbanding terbalik dengan seorang anak yang memberikan seluruh bekalnya untuk Tuhan Yesus Kristus.
Secara logis dan pandangan manusia, inilah tindakan bodoh , tidak masuk akal, dan mengada ada yang dilakukan oleh anak itu. Karena dengan melakukan demikian anak itu tidak memiliki apa apa lagi, tetapi perhatikan Yohanes 9:6 , inilah pemikiran dan kehendak Tuhan Yesus Kristus.
Anak ini secara sadar memiliki pengharapan dalam Tuhan Yesus Kristus, Sehingga dia memiliki pandangan atau prefektif yang sama dengan Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus Kristus tahu apa yang harus dia lakukan, Maka dengan dia menyerahkan semuanya Tuhan Yesus Kristus adakan Hal yang luar biasa.
Tetapi hari hari dengan logika manusia yang mengunakan prepektif ini untuk mencari "keuntungan" atas segala sesuatunya. Ketika memang kita sudah punya "kacamata" yang sama barulah kita kerjakan. Jangan seperti Saul dalam 1 Samuel 13: 8-9 & 1 Samuel 15: 1-9 , dimana dia dengan "kacamata" manusia , dia mengerjakan apa yang seharusnya tidak dikerjakan oleh Saul serta tidak mengerjakan apa yang harus dikerjakan.
Maka dalam 1 Samuel 15:11 & 22 dengan jelas dikatakan Tuhan Yesus Kristus menyesal memilih Saul dan menolak secara penuh. Ini menjadi perhatian kita, sering kali kita seperti Saul "seolah olah" kita sangat rohani. Tetapi yang kita kerjakan adalah prepektif manusia untuk mencari untung bagi diri kita sendiri.
Sehingga kita harus sepenuhnya berhati hati, karena untuk mendapatkan prepektif Alkitab atau Tuhan Yesus Kristus harus mengenal Tuhan Yesus Kristus dan memiliki logika Allah yang utuh. karena dalam pengenalan dan logika Allah, Tuhan Yesus Kristus memproses sudut pandang kita menjadi orang yang melihat kebenaran Tuhan secara utuh bukan berdasar katanya ( Yohanes 9).
Ketika kita telah bertemu Tuhan Yesus Kristus ( Yohanes 9: 37-39 ) , Maka secara kebenaran Allah, kita Baru dapat berjalan bersama dengan Tuhan Yesus dalam pimpinan dan pertolongan Roh Kudus dalam hidup kita. Kiranya Tuhan Yesus Kristus tolong kita semua Amin....
